Translate

Tuesday, January 16, 2018

4 MAKANAN TERBAIK MENCEGAH KANKER PAYUDARA

4 MAKANAN TERBAIK MENCEGAH KANKER PAYUDARA


Kanker payudara adalah ancaman bagi setiap wanita. Meski kamu merasa baik-baik saja, sehat dan tak merasa ada yang perlu dikhawatirkan, bukan berarti kamu bisa abai dengan serangan kanker payudara. Karena seringkali penyakit bisa terjadi tanpa bisa diduga.

Salah satu cara mencegah serangan kanker payudara adalah dengan makan makanan sehat. Beberapa makanan dipercaya bisa menjauhkan kanker payudara dari hidupmu karena kandungan nutrisinya yang hebat.

1. Ikan

Ikan salmon, sarden, tuna, makarel dan ikan laut lainnya memiliki asam lemak omega 3 yang mampu membantu menurunkan inflamasi dalam tubuh. Penelitian tahun 2014 dalam jurnal Cancer Causes & Control menunjukkan bahwa konsumsi asam lemak omega-3 tiap hari bisa turunkan risiko kanker payudara. Jika beli ikan terlalu repot, bisa juga mengonsumsi kapsul minyak ikan.

2. Minyak zaitun

Minyak zaitun termasuk lemak sehat, dan menurut penelitian tahun 2015 yang diterbitkan dalam JAMA, menambahkan 4 sendok makan minyak zaitun ke dalam salad buah dan sayur mampu menurunkan risiko kanker payudara hingga 68%.

3. Buah dan sayur

Banyak penelitian, salah satunya tahun 2011 dalam jurnal European Journal of Nutrition menemukan bahwa diet sehat buah dan sayur bisa menurunkan risiko kanker payudara karena tingginya antioksidan di dalamnya. Serat dalam buah dan sayur juga bisa memenuhi kebutuhan tubuh secara umum. Tapi kamu perlu mengurangi buah yang terlalu manis seperti buah pisang dan mangga untuk menjaga gula darah.

4. Kedelai

Makanan berbasis kedelai, baik itu kacang kedelai asli, edamame, tempe, tahu dan susu kedelai adalah makanan yang bisa menurunkan kanker payudara. Tapi jika ada mutasi gen BRCA2, kedelai perlu dihindari, karena penelitian 2013 yang terbit dalam American Journal of Clinical Nutrition, menemukan bahwa kedelai dan makanan olahannya bisa meningkatkan risiko kanker payudara.

Jadi, itu dia empat makanan wajib yang harus dimakan jika kamu ingin jauh dari kanker payudara sekaligus bisa diet sehat karena nutrisi empat jenis makanan di atas juga mampu menurunkan berat badan secara alami.

DETEKSI KANKER PAYUDARA TERABAIKAN

HINGGA saat ini, kesadaran akan bahaya kanker payudara pada masyarakat Indonesia masih rendah. Hal itu terlihat dari masih minimnya jumlah perempuan yang secara konsisten rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis).

Data Riset Penyakit Tidak Menu­lar (PTM) 2016 Kementerian Kesehatan menyatakan, 53,7% ­masyarakat ­Indonesia tidak pernah melakukan Sadari. Sebanyak 95,6% masya­rakat tidak pernah menjalani Sadanis yang dilakukan melalui ­pemeriksaan USG atau mamografi.

“Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak terjadi pada kaum perempuan. Tapi bukan berarti pria tidak bisa terkena. ­Semua harus melakukan pencegahan dan deteksi dini,” ujar ­Direktur Pencegahan dan Pengen­dalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Lily ­Sulistyowati, dalam diskusi bertajuk Deteksi Dini Kanker Payudara ­dengan Sadari dan Sadanis, di ­Jakarta, kemarin.

Lily mengatakan, masyarakat Indonesia umumnya masih enggan dan tidak peduli untuk mau melakukan deteksi dini, meski mereka telah mengetahui pentingnya hal tersebut. Rasa takut dan khawatir masyarakat akan adanya penyakit tersebut di diri mereka juga masih menjadi penghambat.

“Padahal itu harus dilakukan berkala. Kampanye untuk mengubah kondisi itu terus kami lakukan bekerja sama dengan banyak pihak,” ujar Lily.

Diungkapkan Lily, kanker payudara merupakan salah satu kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Kejadiannya mencapai 50 kasus per 100 ribu penduduk. Yogyakarta menjadi daerah dengan kasus terbanyak dengan angka prevalensi 24 per 10 ribu penduduk.

Kanker payudara juga termasuk dalam 10 penyebab kematian terbanyak pada perempuan Indonesia, mencapai 21,5 per 100 ribu penduduk. Dari total jumlah kasus kanker payudara tersebut, 1% di antaranya dialami kaum pria.

FAKTOR RISIKO

Pada kesempatan sama, dokter ahli onkologi dan Pengurus Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia, Bob Andinata, mengatakan deteksi dini diperlukan untuk memantau masyarakat yang sehat. Pada dasarnya, masyarakat sehat tersebut terbagi menjadi dua golongan. Golongan dengan faktor risiko dan tanpa faktor resiko.

“Faktor resiko kemudian kita lihat ada dua jenis. Yang bisa diubah dan yang tidak bisa diubah,” ujar Bob.

Faktor risiko yang tidak bisa diubah, misalnya ialah memiliki anggota keluarga yang menderita kanker atau memiliki faktor genetik dan mengalami menstruasi pertama di bawah usia 12 tahun. Adapun faktor risiko yang bisa diubah, misalnya gaya hidup.

“Gaya hidup ini semakin banyak jadi risiko saat ini. Selain dari pola makan, juga dari keputusan banyak wanita untuk lama melajang, tidak memiliki anak, dan tidak menyusui bayi mereka dengan maksimal,” ujar Bob.

Diungkapkan Bob, menyusi bayi merupakan salah satu langkah yang paling baik untuk menekan potensi kanker payudara pada perempuan. Dengan menyusui, kadar estrogen perempuan akan turun drastis dan itu membuat sel kanker tidak dapat hidup atau melemah.

Selain itu, untuk mencegah potensi kanker, perempuan juga sangat disarankan untuk bijaksana dalam memilih metode kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal berupa suntik, pil, dan susuk dapat memicu tumbuh kembangnya sel kanker pada tubuh.

“Perempuan yang menggunakan KB hormonal dalam waktu lama atau mencapai lebih dari 5 tahun harus lebih intensif melakukan upaya deteksi dini. Tidak cukup hanya periksa sendiri, tetapi harus rutin setidaknya beberapa bulan sekali melalui cek klinis ke dokter,” saran Bob.

Adapun untuk mereka yang tidak memiliki faktor risiko, pemeriksaan rutin dapat dilakukan dengan mandiri melalui metode sadari (lihat grafik).

Waktu paling baik bagi perempuan untuk melakukan Sadari ialah pada hari ke-7 hingga 10 yang ­dihitung sejak hari pertama ­menstruasi setiap bulannya.

“Sedangkan pemeriksaan klinis ke dokter dapat dilakukan dengan jangka yang lebih longgar, misalnya satu tahun sekali,” kata Bob.

Ia mengingatkan, semakin cepat kanker payudara terdeteksi dan ditangani dengan benar, semakin besar tingkat kesembuhannya dan semakin murah biaya pengobatannya. “Di sinilah pentingnya deteksi dini, untuk mendeteksi keberadaan kanker seawal mungkin,” pungkasnya.

0 comments:

Post a Comment