Translate

Monday, July 31, 2017

MAKELAR KESEHATAN, KEUNTUNGAN DI ATAS PENDERITAAN ORANG LAIN

MAKELAR KESEHATAN, KEUNTUNGAN DI ATAS PENDERITAAN ORANG LAIN


Salah satu harta yang sangat berharga adalah kesehatan. Tak dapat dipungkiri bahwa sakit menyebabkan seseorang mengeluarkan biaya kesehatan bahkan di luar perkiraan yang sudah dipersiapkan. Di salah satu sisi, kesehatan menjadi bisnis yang menggiurkan bagi para pebisnis yang dapat mencari peluang dan menjadi prospek menguntungkan di masa yang akan datang.

Bisnis dalam dunia kesehatan adalah hal yang sah saja bahkan mungkin dikatakan lumrah. Bagi orang yang mampu, mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan satu kata 'sembuh'. Banyak yang berinisiatif berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang lebih canggih dan mutakhir. Bukan hanya fasilitas, tapi juga mengharapkan pelayanan dan senyuman yang kadang sulit didapatkan oleh fasilitas kesehatan di Indonesia (terlebih rumah sakit negeri),

Entah kenapa sebabnya, angka kesehatan semakin sekarang semakin meningkat. Hal ini linier dengan pertumbuhan jumlah manusia tanpa diimbangi dengan bertambahnya fasilitas kesehatan dan fasilitas penunjangnya. Implikasinya adalah bertambah sulitnya orang sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kesehatan sesuai dengan haknya (cakupan asuransi).

Apa saja kesulitan pelayanan kesehatan yang dirasakan oleh orang sakit:

1. Bangsal atau Kamar Pelayanan yang sering kali penuh.

2. Antrian panjang pelayanan dokter di rawat jalan.

3. Antrian pemeriksaan penunjang paket canggih dengan waktu tunggu berhari-hari bahkan berminggu-minggu (Contoh: Pemeriksaan Radiologi Paket Canggih seperti MSCT Scan, MRI, Echocardiography maupun Intervensi Diagnostik Kardiovaskular).

4. Keterbatasan produk-produk bahan medis (obat-obatan tertentu, produk darah untuk tranfusi darah dan alat-alat medis tertentu).

5. Dan banyak kesulitan lainnya.

MUNCULNYA MAKELAR KESEHATAN

Hal yang disayangkan bahwa tingkat kesadaran dalam hal pengurusan masalah kesehatan oleh masyarakat kita masih cukup rendah. Hal ini ditandai dengan seringnya kesalahpahaman persepsi, kebingungan sampai menyerahkan urusan kepada yang lebih mengetahui. Dari hal tersebut muncullah istilah makelar kesehatan.

Kenapa makelar kesehatan? Karena orang-orang yang lebih memahami prosedur kesehatan bersedia membantu namun dengan tarif-tarif tertentu sehingga harga yang harus dibayar orang sakit atau keluarganya meningkat 2x lipat. 

Hal yang sering terjadi adalah jasa membantu pengurusan asuransi, sehingga orang sakit tidak perlu repot lagi kesana-kemari. Dia cukup duduk manis sementara makelar yang wara-wiri menguruskan (termasuk fotokopi, menguhubungi petugas-petugas yang terkait dan membawakan berkas). Satu sisi hal tersebut membantu si orang sakit, namun sisi lain terdapat harga mahal yang harus dibayar. Mengupas lebih dalam lagi, kadang makelar kesehatan sudah mempunyai link dengan beberapa petugas sehingga urusan menjadi lebih lancar. Ini mungkin menguntungkan bagi yang memberikan jasa, namun akan memperpanjang waktu tunggu bagi orang sakit yang tidak menggunakan jasa makelar.

Contoh lain, terdapat seorang pasien dengan tumor perut diharuskan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk dilakukan operasi. Salah satunya pemeriksaan MSCT scan abdomen, sebuah pemeriksaan radiologi paket canggih dengan biaya di atas 1 juta rupiah. Pasien mungkin terkover asuransi sehingga biaya pemeriksaan dijamin asuransi. Namun karena mesin pemeriksaan, yang ingin periksa berjumlah puluhan bahkan ratusan orang, padahal 1 hari cuma bisa dilakukan pemeriksaan 5-6 orang saja, akhirnya antrian panjang yang terjadi. Dari situlah celah terdapat celah adanya makelar kesehatan, ketika datang penawaran orang yang mempunyai jalur khusus untuk menyisipkan 1 atau 2 orang untuk diperiksa lebih cepat, namun mengharuskan pembayaran jasa lebih yang mungkin saja biayanya hampir sama dengan biaya pemeriksaan tersebut. 

Kasus lain yang bisa saja terjadi adalah kebutuhan darah untuk tranfusi pada pasien anemia yang membutuhkan tranfusi darah segera. Keperluan darah bisa didapatkan melalui Bank Darah di rumah sakit atau melalui Unit Pelayanan Tranfusi Darah PMI. Seyogyanya darah dari pendonor adalah gratis, yang harus dibayar adalah biaya pengolahanannya (skrining penyakit di darah, kantong darah dan operasional penyimpanan) yang berkisar antara Rp. 300 ribu - 600 ribu. Dan harga tersebut juga ternyata dibayar oleh asuransi kesehatan. Namun karena kebutuhan lebih tinggi daripada yang disediakan, akhirnya kelangkaan yang didapatkan. Di sinilah muncul makelar kesehatan memanfaatkan hal tersebut. Ketika seseorang memerlukan darah dan stok di Bank Darah ataupun UPTD PMI kosong, muncullah makelar kesehatan yang menawarkan jasa mencarikan darah dengan bayaran untuk membiayai orang yang mau mendonor dan upah pencarian. Akhirnya mungkin saja harga kantong darah dapat mencapai di atas 1 juta per kantongnya. Sangat mencekik bukan?

PERLUKAH DIBAHAS?

Ini adalah masalah kronik, tentunya cara mengatasinyapun tidak bisa cepat. Harus pelan, terstruktur namun pasti. Berbicara cara mengendalikan, perlu konsep dan tulisan berlembar-lembar sehingga tidak cukup dituliskan dalam tulisan yang sederhana ini. Namun tulisan ini perlu dibahas, karena saya sebagai seorang pelaku kesehatan kadang miris melihat hal tersebut bahkan mendapatkan getahnya dari perbuatan yang dilakukan orang lain.

Semoga pelayanan kesehatan di Indonesia menjadi semakin lebih baik di masa yang akan datang.

Salam sehat,

dr. Meldy Muzada Elfa

0 comments:

Post a Comment