Translate

Tuesday, June 14, 2016

MEMAHAMI ARTI REZEKI

MEMAHAMI ARTI REZEKI


Saudaraku kadang-kadang mungkin kita berpikir bahwa rezeki itu adalah apa yang kita dapatkan, padahal rezeki dari Allah Subhanahu wa ta'ala itu sangat luas. Di antaranya adalah berbagai kemudahan dan hal-hal yang tidak berbentuk materi, seperti mendapatkan ilmu dan pencerahan.

Mari kita renungkan firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qur'an Surah at-Taghabun [64] ayat 11, "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan kita hati yang tenang ketika mendapatkan kegembiraan, hati yang lapang saat menghadapi kesulitan, hati yang teguh didalam menghadapi kepahitan. Pahamilah saudaraku bahwa itu semua adalah suatu rezeki. Ketika kita diberi karunia kesehatan dan daya tahan tubuh yang baik, sementara orang lain tengah ditimpa suatu penyakit, tentunya ini termasuk rezeki yang harus kita syukuri.

Hal-hal kecil pun kadang kita lupa bahwa itu adalah rezeki dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Suatu saat mungkin kita pernah mengalami, ketika sedang menengok ke kiri dan kanan untuk mencari tempat parkir, lalu secara tiba-tiba ada mobil di depan kita yang keluar sehingga memudahkan kita untuk parkir. Subhanallah, Semuanya telah diatur oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Karunia Allah Subhanahu wa ta'ala juga sering datang dalam bentuk pertolongan lain yang mungkin jarang kita sadari. Misalnya kita memiliki hutang dan memang belum bisa membayar tepat pada waktunya. Tetapi orang yang menghutangi kita itu ternyata memiliki sifat yang baik sehingga memberi keringanan kepada kita untuk menunda pembayarannya. Ketahuilah, itu juga bagian dari karunia Allah Subhanahu wa ta'ala yang telah meluluhkan hatinya.

Semua rezeki andaikata kita rajin mensyukurinya, Insya Allah akan mendatangkan lebih banyak lagi nikmat lainnya. Seperti firmah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qur'an Surah Ibrahim [14] Ayat 7, "... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya Azab Ku sangat pedih"

Sikap-sikap syukur nikmat selayaknya menjadi bagian penting dari perilaku kita agar hidup ini menjadi lebih ringan dan lebih bisa dinikmati. Dengan demikian, sikap kita Insya Allah menjadi lebih mulia. Seperti cerita seorang ibu yang uangnya habis untuk membiayai anak-anaknya yang sakit dan mencicil hutang suaminya, tetapi terbukti namanya menjadi cemerlang dan kebutuhannya selalu tercukupi. Walaupun tidak mempunyai kelebihan, tetapi ternyata beliau bisa berangkat ke Baitullah. Allahu Akbar.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan karunia hikmah kepada kita agar kita mulai peka terhadap nikmat-nikmat yang tidak tampak secara fisik dan tidak kita genggam. Dan mudah-mudahan dengan kepekaan ini kita bisa meraba samudera nikmat yang tidak bertepi, yang membuat kita termasuk ahli syukur yang lebih layak dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

PEMBAGIAN REZEKI

Bila kita mencoba untuk sedikit merenungi tentang rezeki, maka rezeki itu setidaknya ada tiga macam.

REZEKI YANG DIJAMIN

Rezeki yang dijamin yaitu penguat tubuh. Adakah di antara pembaca yang pernah tidak makan dua hari saja? Insya Allah, walaupun mungkin ada yang hanya satu atau dua kali sehari dengan lauk seadanya, tetapi kita masih bisa memenuhi kebutuhan atau pangan. Perhatikan pula, ketika seseorang diopname karena sakit dan dia tidak bisa makan sendiri, ternyata ada saja yang menyuapinya. Entah itu perawat atau keluarganya. Kalau pun sama sekali tidak mampu mengunyah, pasti dokter akan memberinya infus.

Lihatlah bayi, ketika rasa lapar menghampirinya, ia menangis dan dapatlah ia rezekinya berupa ASI (Air Susu Ibu). Lain lagi, ketika beranjak besar, "Ibuuu, saya lapar!" Ibunya menjawab, "Ambil sendiri!" Lho kok sekarang tidak mempan lagi dengan tangisan apalagi dengan rengekan seperti dulu?! Kenapa? Sebab Allah Subhanahu wa ta'ala sudah memberinya ilmu, memberi umur, memberi kekuatan, dan memberi pengalaman supaya dia bisa menjemput jatah rezekinya.

Yang pasti, semua makhluk yang Allah Subhanahu wa ta'ala ciptakan sudah lengkap rezekinya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surah Huud [11] ayat 6, "Tidak ada satu pun makhluk yang melata dibumi kecuali dicukupi rezekinya oleh Allah."

Rezeki yang pasti ada yaitu makanan penguat tubuh kita. Ingat ketika berada di dalam perut ibu, walaupun tidak bekerja tetapi kita tetap tumbuh besar. Ketika lahir pun kita tidak tahu bagaimana mencari nafkah. Tetapi mengapa saat tali ari-ari kita digunting oleh bidan pun kita tidak panik? Karena Allah Subhanahu wa ta'ala telah menjamin rezeki makan kita dengan menyiapkan air susu ibu. Dan setelah dua tahun, ketika ibu berhenti menyusui, Allah Subhanahu wa ta'ala tetap memberi kita makan sampai kita tumbuh seperti sekarang ini. Oleh karena itu, jangan takut tidak makan tetapi takutlah makanan yang kita santap tidak halal.

REZEKI YANG DIGANTUNGKAN

Penggambarannya kurang lebih begini: rezekimu ditetapkan segini. Tetapi harus ikhtiar di jalan Allah Subhanahu wa ta'ala dulu, maka engkau bakal ketemu dengan rezekimu itu. Tetapi kalau engkau tidak ikhtiar, maka takdirnya tidak akan ketemu. Kalau engkau malas maka rezeki yang kau dapatkan pun sedikit. Kalau ikhtiarnya jujur maka selain rezeki dapat, pahala pun akan kau dapatkan.

Sebaliknya kau kalau tidak jujur, entah dengan menjadi maling, korupsi, atau berbuat licik, tetap engkau akan dapatkan rezeki dengan perubahan status menjadi haram. Artinya, walaupun mati-matian kita bekerja, tetap saja dosisnya sudah ditentukan. Yang membedakan adalah pahalanya.

Setiap orang sudah ada kadar rezekinya. Walaupun satu keluarga rezekinya bisa jadi beda-beda.  Perbedaan rezeki ini bukan berarti menunjukkan ketidakadilan Allah Subhanahu wa ta'ala, justru berbahaya kalau rezekinya sama semua. Rumusnya, kalau sahabat pembaca mencari rezeki di jalan Allah Subhanahu wa ta'ala, maka rezeki akan dapat dan pahala pun dapat. Itulah yang namanya berkah. Tetapi kalau mencarinya dengan licik, rezekinya dapat, dosa pun dapat, haram namanya.

Kalau kita jujur maka pasti kita akan bertemu dengan rezeki kita. Namun kalau kita sudah bekerja sungguh-sungguh tetapi rezekinya tetap sedikit maka kita harus intropeksi diri. Mungkin ikhtiar kita selama ini belum optimal dan profesional. Untuk itu kita harus mencari strategi-strategi baru dalam mencari rezeki kita. Kuncinya, rezeki itu akan cepat datang kalau kita mencarinya dengan profesional. "Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri" (QS ar-Ra'd [13]:11)

Artinya, kita tidak cukup hanya bekerja keras saja. Akan tetapi harus bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Bekerja keras itu bagian fisik, bekerja cerdas bagian otak, dan bekerja ikhlas bagian hati. Kalau ketiga-tiganya berjalan, Insya Allah rezeki kita akan diperoleh dengan mudah.

REZEKI YANG DIJANJIKAN

Kita mempunyai harta pas-pasan, tetapi harta itu kita manfaatkan untuk bersedekah, menyekolahkan anak orang lain, atau membayarkan orang yang mempunyai hutang, Insya Allah suatu saat kelak kita akan menerima balasan berlipat ganda.

Lebih baik rezeki kita seukuran gelas, tetapi di atasanya ada air mancur yang tiada terputus, dari pada rezekinya sebesar tanki tetapi isinya sedikit.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah berjanji, barang siapa yang bersyukur terhadap nikmat yang ada, maka Allah Subhanahu wa ta'ala akan menambah nikmatnya. Oleh karena itu, setiap kita mendapat rezeki keluarkan zakat dan sedekahnya, karena harta kita tidak akan berkurang dengan sedekah. Sebaliknya, harta itu akan bertambah, bertambah, dan bertambah. Inilah rumusnya.

dikutip dari: Buku ETIKA BISNIS MQ, oleh Abdullah Gymnastiar.


0 comments:

Post a Comment