Translate

Monday, June 13, 2016

KHIYAR DALAM JUAL BELI

KHIYAR DALAM JUAL BELI


Khiyar adalah hak bagi penjual dan pembeli untuk meneruskan atau membatalkan akad jual beli. Asalnya dalam akad jual beli adalah berlangsungnya akad tersebut, ketika telah terjadi kecocokan (saling suka) pada saat melakukan akad yang memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya, dan kedua belah pihak tidak berhak untuk membatalkannya.

Akan tetapi, Islam adalah agama yang toleransi dan mempermudah, serta mempertimbangkan kepentingan dan keadaan seluruh umatnya. Oleh karena itu jika ada seorang muslim yang membeli suatu barang atau menjualnya dengan alasan tertentu kemudian ia menyesal, maka ia boleh memilih dan berfikir-fikir terhadap barang tersebut dan melihat kemaslahatannya, sehingga ia berhak untuk membeli atau mengembalikan barang tersebut hingga ia merasa cocok.

MACAM-MACAM KHIYAR

Khiyar ada empat macam, yaitu:

KHIYAR MAJLIS

Yaitu tempat berlangsungnya jual beli, di mana penjual dan pembeli berhak memilih (antara melangsungkan dan membatalkan akad jual beli) selama mereka masih berada pada tempat akad dan belum berpisah. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma: Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Dua pihak yang berjual beli memiliki hak untuk memilih selama mereka belum berpisah".

KHIYAR SYARAT

Yaitu kedua belah pihak atau salah satu dari keduanya mensyaratkan adanya khiyar (hak untuk menentukan jadi tidaknya akad jual beli) hingga waktu yang telah ditentukan. Apabila waktu yang ditentukan tersebut telah berakhir dan tidak ada yang membatalkan akad, maka akad jual beli pun dianggap tetap (jadi dan sah).

Contoh: Ada seseorang yang sedang membeli mobil kepada orang lain, kemudian si pembeli tersebut berkata: "Saya beli mobil ini dengan hak khiyar selama sebulan penuh." Apabila ia menggunakan hak khiyarnya dan membatalkan pembelian mobil, maka memang ia berhak untuk membatalkannya. Namun apabila ia tidak membatalkan pembelian tersebut hingga waktu berlalu sebulan penuh, maka pembelian mobil tersebut di anggap jadi dan sah semata-mata berlalunya waktu sebulan penuh (tanpa ada pembatalah).

KHIYAR 'AIB

 Yaitu apabila pembeli menentukan aib (cacat) dalam barang yang telah dibeli dan penjual tidak memberitahukannya atau si pembeli tidak mengetahui kondisi barang tersebut. Aib (cacat) ini bisa mengurangi harga jual barang tersebut. Untuk mengetahui dan menentukan cacat suatu barang haruslah dikembalikan kepada para pedagang yang ahli dan terpercaya. Apa saja yang mereka anggap sebagai cacat, maka si pembeli memiliki hak khiyar atasnya. Adapun sesuatu yang tidak dianggap cacat oleh mereka, maka si pembeli tidak memiliki hak khiyar atas barang tersebut.

Khiyar semacam ini menjadi ketetapan bagi pembeli, apabila ia berkehendak, maka dia boleh meneruskan akad penjualan dan meminta ganti rugi atas cacatnya barang tersebut, dan ini merupakan selisih antara harga barang yang asli dengan harga barang yang cacat. Apabila dia ingin mengembalikan barang tersebut, maka harga yang telah ia bayarkan harus dikembalikan.

KHIYAR TADLIS

Yaitu penjual menipu pembeli dengan menambahkan harga, dan perbuatan ini diharamkan, sesuai hadits Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam:

"Orang yang menipu kami tidak termasuk golongan kami." HR. MUSLIM (no. 101).

Contoh: Seseorang mempunyai sebuah mobil yang di dalamnya mempunyai banyak kekurangan (aib), kemudian dia sengaja menampilkannya dengan warna yang bagus, dia membuat tampilan luar mobil tersebut mengkilat hingga menipu pembeli, maka si pembeli pun membelinya. Dalam kasus ini, pembeli berhak mengembalikan barang yang telah ia beli dan penjual harus mengembalikan sejumlah uang yang telah dibayarkan oleh pembeli.

dikutip dari: Buku HUKUM JUAL BELI, KOMPILASI ULAMA FIQIH LEMBAGA MALIK FAHD DARI KITAB FIQIH MUYASSAR, Dibahas Secara Mudah dan Praktis!
Riba, Kredit, Pinjaman, DP, Gadai dan Selainnya.
HIDUP TENTRAM BERSAMA SUNNAH.
PENERJEMAH: ABDULLAH IMADUDDIN

0 comments:

Post a Comment