Translate

Wednesday, June 1, 2016

BERBISNIS DARI KEDALAMAN HATI

BERBISNIS DARI KEDALAMAN HATI


BAGIAN PERTAMA

"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta'ala, suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk kelurganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fii sabiilillah."

(HR. Imam Ahmad)

PERHATIKAN POTENSI YANG ANDA MILIKI

Merujuk pada hadis di atas, maka dapat kita renungkan bahwa betapa luar biasanya kedudukan seorang hamba yang terampil dan bekerja bersusah payah mencari nafkah bagi keluarganya. Bahkan, kedudukan mereka setara dengan para mujahid. Tentu saja, menjadi hamba Allah yang sukses dalam bekerja atau berusaha adalah impian semua orang. Sebagaimana impian kita untuk dapat selalu dekat dengan Allah.

Oleh karena itu memohon kepada Allah semoga Dia memberi kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah diberikan-Nya. Lebih dari itu, semoga kita pun diberi kekuatan untuk menggali dan mengembangkan diri kita dengan baik agar hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang lain. Bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya.

Dalam Al-Qur'an telah ditegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti, kemampuan kita untuk mandiri dalam mengarungi hidup ini, merupakan kunci yang diberikan oleh Allah untuk sukses di dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

Seperti yang sering saya tekankan, bahwa ada satu hal yang mungkin agak kurang kita perhatikan dalam pelajaran Islam, yaitu tentang kewirausahaan. Sebagaimana yang kita ketahui dalam catatah tarikh Islam, ternyata Rasulullullah Shalallahu alaihi wassalam adalah seorang wirausahawan. Tepatnya, seorang pedagang.

AWAL SEJARAH KEHIDUPAN RASULULLAH SHALLAHU ALAIHI WASSALAM

Kalau kita lihat kehidupan Rasulullullah Shalallahu alaihi wassalam, beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, ketika ayahnya sudah tiada. Pada usia 6 tahun, dalam perjalanan kembali dari Yatsrib sesudah menengok makam ayahnya, Muhammad Shalallahu alaihi wassalam kembali kehilangan orangtua karena saat itu ibunya pun wafat.

Dengan demikian, di usia 6 tahun Muhammad Shalallahu alaihi wassalam sudah menjadi yatim piatu. Sampai usia 8 tahun 2 bulan beliau dibina dan dididik oleh kakeknya, Abdul Muthalib, seorang yang terpandang pada waktu itu. Usia 8 tahun 2 bulan sepeninggal kakeknya, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Mulai saat itulah pemuda kecil Muhammad Shalallahu alaihi wassalam mulai mencari nafkah sendiri dengan menggembala kambing.

Pada usia 12 tahun, Muhammad Shalallahu alaihi wassalam diajak oleh pamannya berdagang ke Syiria yang berjarak ribuan kilometer dari kota Makkah. Perjalanan yang begitu jauh ditempuh oleh seorang anak berusia 12 tahun tanpa menggunakan mobil ataupun pesawat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang. Sepulang dari Syiria, Muhammad Shalallahu alaihi wassalam sangat sering mengadakan bisnis sampai beliau dikenal di Jazirah Arab sebagai seorang pengusaha muda yang sukses.

REPUTASI BISNIS RASULULLAH SHALLAHU ALAIHI WASSALAM

Pendek kata, sebelum masa kenabian, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi bisnis secara adil. Kejujuran dan keterbukaan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dalam melakukan transaksi perdagagan merupakan teladan bagi para pengusaha generasi selanjutnya. Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas sesuai permintaan pelanggan sehingga tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau bahkan kecewa.

Reputasinya sebagai pedagang yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik. Sejak muda, beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan.

Di usia 25 tahun, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah dengan mahar 100 ekor unta muda. Saya kira, di Indonesia saat ini masih sulit kita dapati pemuda yang berani memberi mahar sebanyak atau setara dengan itu. Dalam buku "Muhammad Sebagai Seorang Pedagang" diceritakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, adalah seorang profesional, namun itulah yang amat jarang kita bahas, yaitu bagaimana beliau menjadi seorang profesional dan bagaiman etos kerja beliau? Padahal beliau memulai usaha tanpa modal sepeserpun.

Jadi, kalau ada yang mengeluh karena terlahir dari orang miskin, maka bandingkan dengan Muhammad Shalallahu alaihi wassalam yang terlahir tanpa ayah disisinya. Ketika pendidikan rendah menjadi alasan, bandingkan dengan Muhammad Shalallahu alaihi wassalam yang tidak pernah sekolah. Dan ketika ketiadaan modal menjadi halangan, bandingkan dengan Muhammad Shalallahu alaihi wassalam yang juga tidak berbekal modal materi. Dengan begitu, tidak ada satu alasan pun bagi kita untuk mengeluh.

dikutip dari: Buku ETIKA BISNIS MQ, oleh Abdullah Gymnastiar.

0 comments:

Post a Comment