Translate

Thursday, August 21, 2014

Sadarkah Anda Telah Mem-bully Anak Anda Sendiri ?


Baru menulis judul saja rasanya dada saya sesek sekali. Ada rasa sedih bercampur iba, bercampur marah dan bingung. Tetapi ada harapan sangat besar dari hati saya untuk Anda semua supaya lebih berhati- hati untuk mendidik anak, sekalipun sebenarnya saya belum menikah, tetapi mungkin cepat atau lambat saya sudah cukup umur menjadi seorang ibu yang akan menjadi pendidik untuk anak- anaknya kelak. Jadi, semoga yang saya tulis ini perlu diperhatikan untuk siapapun, khususnya bagi orang tua yang masih punya harapan layak dianggap orang tua sejati.

Di dalam judul, terdapat kata ”bully”, saya kutip dari bahasa inggris yang artinya ”menggertak”, dalam bahasa saya sendiri, kata itu saya artikan  suatu tindakan yang membuat anak menjadi terganggu atau suatu perilaku yang berdampak negatif( tidak dilarang untuk membenarkan bagi siapa saja).

Seorang anak memang jika kita pahami bahwa kemampuan mereka serba terbatas, belum banyak mengetahui sesuatu, yang belum mandiri dan sebagainya itu. Terkadang dalam keadaan emosi tertentu kita mudah untuk merendahkan keberadaannya. Misalnya begini; ada pasangan rumah tangga, yang sedang adu mulut. Ketika seorang anak meminta orang tuanya untuk berhenti cek- cok dan meminta untuk baikan, salah satu dari orang tua itu malah berkata keras meminta anaknya diam. Mungkin dengan mengatakan kata- kata yang seperti ini,

”Alah kamu anak kecil belum tau apa- apa, diam saja lah kamu!”

Itu merupakan salah satu contoh merendahkan keberadaan anak. Memang terkadang masalah ekonomi sebuah keluarga mempengaruhi keharmonisan keluarga. Tetapi saat ini, mari kita renungkan anak- anak yang sudah menjadi milik Anda. Sudah pasti, kehadiran anak tentunya selain pelengkap keluarga, juga sebagai penerus generasi kita bukan, setelah terlahir di dunia anak- anak menjadi sebuah  harapan. Dan bukan untuk disakiti/ dibully.

Dari penelusuran beberapa media, anak-anak terlantar di Indonesia saat ini masih ada 4,1 juta jiwa (dinsas.kaltimprov.go.id). Jumlah anak yatim piatu menurut yayasan Yatim Mandiri diperkirakan kurang lebih sekitar 3,2 juta jiwa. Tercatat dari Komnas PA dari Januari - April saja sudah ada 342 kasus pelecehan seksual menimpa anak- anak di Indonesia. Sedangkan angka putus sekolah anak- anak di Indonesia masih tinggi.

Sedikit catatan di atas, marilah kita sadar untuk bisa menghargai anak dan memberikan yang terbaik untuk anak demi masa depannya. Anda dan saya apabila melihat jumlah anak- anak yang malang saat ini tentunya hanya bisa mendoakannya saja, syukur- syukur jika Anda atau saya mampu memberikan bantuan kepada mereka. Tetapi bagaimana dengan jumlah yang besar seperti itu? Hati kita kemudian akan bilang, itu semua masalah negara! Itu semua urusan para petinggi negeri! Apakah Anda merasakan para penguasa negara kita seperti jalan di tempat yang selalu lambat melakukan perubahan? Atau jangan- jangan mereka tidak tau bagaimana cara mereka mengubah dan mengatur masalah anak- anak yang menimpa bangsa ini...

Sekiranya cukup. Yang terpenting adalah perhatikan saja anak- anak Anda di rumah. Jika diantara keluarga kita belum harmonis, tidak terlambat untuk membangun keharmonisan keluarga. Hadirkan rasa saling menyayangi, rasa hormat menghargai. Jangan jadikan masalah ekonomi penghanucur keluarga, kedamaian orang tua berpengaruh besar untuk perkembangan otak anak- anaknya. Dapat dibuktikan anak- anak yang cerdas biasanya orang tuanya tak suka melakukan perdebatan.

Bentuk- bentuk bully kepada  anak yang biasa kurang disadari :

1). Suka menghukum anak dengan kekerasan fisik jika anak melakukan kesalahan, dan tidak menjelaskan bagaimana sebaiknya dilakukan anak jika telah melakukan kesalahan. Sebagai orang tua yang bijak, cukuplah dengan menasehati.

2). Suka bertengkar di hadapan anak itu sama saja memberi contoh kepada anak untuk bertengkar jika mereka sudah besar kelak, sering ini terjadi akibat emosi yang tak terkendali.

3). Menceritakan pengalaman buruk masa lalu sendiri di hadapan anak. Hal ini bisa menjadi pedoman yang keliru untuk anak, anak mengira dia boleh melakukan pengalaman buruk seperti yang telah dilakukan oleh orang tuanya.

4). Orang tua yang overprotective, anak merasa dibatasi dan tak nyaman untuk mengembangkan dirinya seperti anak- anak yang normal lainnya. Jika terjadi penyimpangan, anak akan melakukan sesuatu yang melawan aturan orang tuanya. Saat anak dewasa perubahan dratis menjadi negatif sangat rentan mengingat anak bisa bergaul dengan siapa saja.

5). Kurang peka/ kurang peduli. Sebagai orang tua jangan lupa ingatan untuk tau apa kebutuhan anaknya, selain memberi makan, sandang, papan, menyekolahkan lebih penting lagi dididik mentalnya, dengan mengenalkan Tuhannya dan mengajarkan anak untuk bersosialisasi supayamempunyai kepercayaan diri.

6). Memaksa anak menjadi seperti apa yang kita ingini. Sudah seyogyanya kita mendukung apa yang mereka minati sesuai bakat dan kemampuannya.

0 comments:

Post a Comment