Translate

Wednesday, August 27, 2014

My Brain Says Yes, But My Heart Says No

Kalo ikutin feeling, kepingin sekali melakukannya. Tapi kalo mikir, ngak berani mengerjakannya. My brain says yes but my heart says no. Demikianlah perdebatan dalam diri yang pernah atau mungkin sering kita alami. Disatu sisi kepingin tetapi disisi lain ogah. Memang begitulah kenyataan hidup, senantiasa ada disagreement or even epic battle between the heart and mind, between feeling and logic. Hidup koq ribet amat sih? Kenapa Yang Kuasa memberikan kita otak dan hati? Bukannya malah bisa menyusahkan karena bikin kita harus memilih?

Memang dari jaman baheula sejak adanya manusia, sedari saat itu pula lah sudah mulai adanya longest battle of the brain dan heart. Masing-masing merasa mereka lah yang utama dan kudu didahulukan dan dipentingkan. Tak heran kenapa hingga sekarang pun masih terus terjadi ketidak sesuaian antara klik the so called ilmuwan akademisi dan theolog/agamawan/spiritualis. Yang satu dengan segudang alasan dan argumen based on logic dengan dipanglimai oleh ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Satunya lagi dibekali sejuta dasar dan alasan dengan dikomandani oleh perasaan dan hal lainnya yang non science.

Menjalani hidup harus pake rasio dan logic, buat apa susah-susah sekolah kalau masih berpola hidup jaman Flinstone dan penuh dengan hal-hal irassional? Improvement and advancement in science and technology lah yang bisa menjawab semua tantangan kehidupan kita.

But hey, wait a second. Ilmu teknologi bukan satu-satunya cara untuk menjawab aneka permasalahan in life. Pake juga dong feeling, intuisi, kecerdasan ilahi. Asah pula ketajaman naluri, visualisasi. Maka semua problem bisa ada solusi, semua keinginan bisa terwujud.

Begitulah kira-kira yang selalu kita baca atau dengar dari masing-masing kubu. Kubu otak dan kubu hati. Mana yang make sense dan benar? Dua-duanya bisa benar sekaligus bisa salah.

Janganlah secara tanpa sadar (apalagi dengan sadar) kita merasa sebagai yang paling benar. Jangan pula secara tanpa sadar (terlebih dengan sadar) kita mengajak orang lain ikut-ikutan salah. Kehidupan tak bisa untuk disiasati hanya dengan satu cara, hanya via pendekatan kepintaran logika atau hanya melalui kecerdasan perasaan/naluri/intusi/insting/visualisasi/atau apapun istilah lainnya.

Secara kodrati kita dibekali dengan kedua hal, punya otak dan ada hati. Tentu bukan tanpa sebab kita tercipta seperti begini. Dikasih yang namanya brain plus dibekali yang diistilahkan heart. Jadi kita dibekali sang pencipta dengan kepintaran otak dan kecerdasan hati. They are the yin and the yang in us. They both are at the other spectrum but need each other. One cannot exist without the other. Manfaatkanlah kedua nya, jangan “fanatik” membabi buta hanya menggunakan salah satunya saja. We will be very unwise kalau hanya mengandalkan ketajaman hati saja. We will be so stupid jika hanya memercayai otak saja. Disetir logika terus akan bikin kita jadi robot/mesin dingin tanpa empati kemanusiaan. Dikendalikan hati melulu akan buat kita jadi melankolis cengeng dan terjebak ke alam takhayul / superstitious. Kita punya dua tangan, dua kaki, kenapa tidak memakai kedua-duanya. Kita ada dua mata dua telinga, bahkan otak belahan kiri dan kanan, ya dimanfaatkan saja keduanya. Jangan konyol (demi atau karena alasan apapun) hanya mengaktifkan salah satunya saja.

Now the trickiest part, mengetahui kapan perlu mengedepankan yang mana. Kecerdasan otak dan kecerdasan hati, keduanya adalah berkah yang kita miliki. Gunakan dan maksimalkan keduanya. May the smartness of the brain and the wiseness of the heart be with us most of the time! Most importantly, we know when to rely on which!!

0 comments:

Post a Comment