Translate

Thursday, August 21, 2014

Keteladanan Ayah Sejati




Konon terbetik cerita seorang ayah yang sedang sibuk bekerja di ruang kerja di rumahnya didatangi anaknya yang sudah dewasa.
“wahai anakku, ada gerangan apakah kiranya engkau masuk ke ruangan kerja ayah?” tanya sang ayah dengan penuh perhatian.
“Ananda mohon perkenan waktu ayah, ada urusan yang hendak aku sampaikan.” Jawab sang anak penuh hormat
“urusan apakah wahai anakku?” tanya sang ayah kembali
“Ada urusan keluarga dan ananda membutuhkan pertimbangan dan sumbang saran dari ayah” balas sang anak
Maka sebatang lampu kecil satu satunya yang ada di kamar itu dipadamkan, hanya dengan satu kali tiupan (…huffff…..) dari mulut ayah yang ternyata seorang pemimpin besar terusirlah nyala api yang berada di atas sumbu lampu kecil, seketika ruangan menjadi gulita.
“ayah….kenapa lampu harus dimatikan sampai aku tak bisa menatap wajah ayah?” tanya anak lelaki keheranan dan tak mengerti.
“anakku, kita tidak boleh menggunakan fasilitas negara untuk membahas persoalan keluarga. Mulailah bicara anakku, apa persoalanmu” jawab sang ayah penuh wibawa.

Demikian kisah sederhana di tempat yang sederhana namun menguncangkan jiwa bagi yang membacanya. Adalah Khalifah Umar Ibn Abdul Azis khalifah kelima yang malam itu membhasa persoalan rumah tangga dengan putra beliu, sang Khalifah adalah raja sang sangat disegani dan dihormati, sampai akhir hidupnya datang binatang buas tak memangsa. Keamanahan sang pemimpin benar benar menjadi teladan yang menorehkan tinta emas sepanjang masa (sumber buku “semua ayah adalah bintang” penerbit progesio penulis Neno Warisman)

Kisah perihal keteladanan ayah tersebar dalam setiap masa dan sejarah, adalah Luqman Hakim menurut riwayat hidup di masa nabi Daud pernah berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang), dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya). Lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.”

Ayah yang selalu diidentikkan tugas dan tanggung jawab berat sebagai kepala rumah tangga yang sibuk dan habis waktu dalam hal pencarian nafkah, bermain dengan anaknya bersenda gurau dengan buah hatinya akan dilakukan diwaktu senggangnya atau tidak sama sekali karena urusan rumah tangga termasuk urusan anak menjadi wilayah ibunya, (mungkin ada) sebagian anak yang tidak dekat dengan ayah karena alasan kesibukkan sang kepala rumah tangga sehingga sang anak enggan berbagi cerita kepada ayahnya, bagaimana apabila hal ini terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama. 

Maka hubungan anak dan ayah akan menjadi hambar tak memiliki ruh. Saya kok berandai andai apabila para ayah membuat jadwal dalam sehari ada barang satu jam untuk dihabiskan waktu bersama sang anak, betapa indah dan harmonisnya. Sesibuk apapun ayah harus menepati dan disiplin karena sudah ada janji dengan sang anak, kalau biasanya sang ayah yang pekerja kantor selalu menepati janji dengan atasan dengan partner kerja dengan klient maka dengan anakpun juga harus berlaku adil.

Anak adalah investasi dunia akhirat, mungkin sang ayah saat ini masihlah bertubuh kuat dan bugar, tetapi seiring berjalannya waktu masa tua akan tiba apabila pola komunikasi pola interaksi dengan anak tak dibangun mulai saat ini akan menjadi (ibarat) bom waktu pada saatnya akan meledak. Cukuplah sudah kita lihat fakta dilapangan ada anak seorang pejabat terlibat dalam kasus besar yang memalukan nama keluarga, ada anak pejabat yang mendapat proyek fiktif akibat mencatut nama besar sang ayah, belakangan di media dikabarkan anak Jackie Chan seorang bintang besar yang sukses dengan peran laganya anaknya tersangkut kasus narkoba.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengajak kembali menelisik keteladan Luqman Hakim yang berpesan kepada anaknya sekaligus dituangkan dalam kitab suci pada surat Luqman Jangan memersekutukan Allah, berbuat baik pada dua orang ibu-bapak, Sadar akan pengawasan Allah, dirikan shalat, Perbuat kebajikan, Jauhi kemungkaran, sabar menghadapi cobaan dan ujian, dan jangan sombong (sumber wikipedia) maka bagaimana dengan para ayah masa modern ini bisa berpesan sedangkan kebersamaan dengan sang buah hati tak segera dimiliki.

0 comments:

Post a Comment