Translate

Monday, June 9, 2014

Digital Mindset Yang Harus Dimiliki Oleh Para Pemain Bisnis Online Lokal


Editor’s Note: Artikel ini ditulis oleh Herman Kwok. Ia adalah CEO dari SemutApi Colony (SAC) dan Klix Digital, PT. Alpha Merah Kreasi. Kini SAC dan Klix Digital termasuk agensi yang cukup terpandang memegang brand-brand terbaik di Indonesia. Di tahun 2009 Herman menerbitkan buku yang ditulisnya berjudul “15 Kesalahan dalam Branding”. Integritas dan kemauan adalah prinsip yang ia yakini untuk mencapai kesuksesan.
Perkembangan pesat dunia digital di Indonesia sudah bukan topik yang menarik sekarang. Topik ini sudah dibahas sejak  7 tahun lalu. Tapi jika melihat dunia bisnis lokal dengan lebih teliti dan detail, ternyata perkembangan digital ini baru euphoria sebagian pihak saja. Dunia digital atau internet belum maksimal dimanfaatkan semua pemain bisnis di Indonesia. Tidak percaya?
Salah satu indikator perkembangan dunia bisnis adalah Ad-Spending atau pembelanjaan iklan di Indonesia. Menurut data eMarketer tahun 2013, total Ad Spending di Indonesia adalah sebesar U$ 9.99 billions(sekitar 110 Triliun Rupiah) sedangkan alokasiuntuk digital Ad hanya sekitar2% saja. Dengan angka sekecil itu tentunya berdampak signifikan ke aktifitas digital di tanah air.Tapi mengapa kelihatannya perkembangan digital terasa begitu pesat?
Sebenarnya dunia digital di Indonesia mulai berkembang pesat sejak tahun 2007 pada era masuknya teknologi 3G di Indonesia. Pada saat itu dibawa oleh perusahaan teknologi lokal. Kebetulan popularitas Facebook juga mulai naik dan kemudian diikuti oleh Twitter. Kalau masih ingat, beberapa iklan provider handphone waktu itu memanfaatkan fitur “Facebook-an danTwitter-an” untuk promosinya. Facebook baru mulai popular di Indonesia saat itu, sementara aktifitas internet untuk bisnis masih didominasi oleh email, blogs serta website corporate. Karena persaingan yang ketat, perusahaan provider berusaha memanfaatkan popularitas sosial media untuk mendapatkan pelanggan.
Akibat gencarnya promosi provider dan meluasnya pemakaian internet 3G, maka dalam waktu singkat aktifitas di sosial media menyebar hingga kekota-kota kecil dan belakangan masuk juga kepinggir kota terutama di generasi muda. Kebetulan dalam bidang pendidikan pemakaian internet juga sudah mulai gencar di sekolah-sekolah. Media digital besar hanya didominasi beberapa pemain saja. Kemudian tahun 2009 Kaskus melakukan rebranding dan menjadi forum komunitas terbesar di Indonesia. Akses internet yang makin cepat ditambah munculnya tablet menciptakan peluang-peluang baru untuk pemain e-commerce, games, aplikasi dan mobile.
Kembali ke pertanyaan di atas, mengapa perkembangan bisnis digital di Indonesia belum maksimal?
Jika melihat aktivitas bisnis lokal, mulai dari UKM, perusahaan sedang hingga perusahaan besar baru sebagian yang memanfaatkan digital. Terutama perusahaan besar yang sudah memanfaatkan integrasi digital dalam bidang Marketing, Finance, Inventory, Supply-Chain hingga Delivery dan Customer Service. Ada yang sudah beradaptasi penuh, ada yang baru sebagian. Sedangkan untuk perusahaan berukuran sedang & UKM masih butuh waktu untuk memanfaatkan teknologi digital dalam operasionalnya. Selain kendala capital dan SDM, tentunya yang paling penting adalah ‘Digital Mindset’ dari para pemain bisnis lokal.
Menurut Forbes, ada 5 hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan digital mindset:
  1. Pelaku bisnis harus memiliki Visi digital dan menularkan ke dalam organisasinya.
  2. Memberikan peluang untuk generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital.
  3. Menjembatani gap antar pihak yang lebih digital savvy dengan pihak yang masih konvensional.
  4. Percaya dengan data digital yang digabungkan dengan intuisi.
  5. Open minded dengan hal-hal baru yang muncul terus menerus beserta perubahan yang mengikuti tren tersebut.
Melalui lima hal di atas, maka pelaku bisnis bisa dengan mulus membawa bisnisnya masuk ke teknologi digital secara maksimal.

0 comments:

Post a Comment